Keuntungan dan Kerugian Menggunakan Jasa Head Hunter Indonesia

Susahnya mencari pekerjaan yang cocok dengan minat dan keterampilan seorang pekerja, mengakibatkan menjamurnya perusahaan penyedia jasa tenaga kerja dari dalam maupun luar negeri. Salah satu format perusahaan penyedia jasa tenaga kerja itu dikenal sebagai head hunter Indonesia.

Pengertian head hunter dalam bisnis penyedia tenaga kerja disebutkan secara konkret sebagaimana dilansir dari kompas. Head hunter adalah sebuah jasa konsultan yang dapat diandalkan para perusahaan untuk menggali pekerja professional dan atau senior executive dengan kemahiran spesifik dan ekslusif untuk menduduki posisi tertentu di suatu perusahaan.

Pengertian itu menegaskan bahwa head hunter Indonesia adalah perusahaan penyedia jasa yang bukan menggali pekerja dalam bidang umum, namun yang lebih khusus atau spesifik dan kawakan seperti pekerja professional atau senior executive.

Menggunakan jasa head hunter Indonesia pun mempunyai keunggulan dan kelemahan tersendiri. Terlebih jasa head hunter ini memiliki sebuah hubungan antara hak dan tanggung jawab pada Perusahaan Pemberi Kerja (PPK) dan pada calon pegawai.

Keuntungan Perusahaan

Mengutip penjelasan Joris de Fretes, sebagai seorang HR Direktur Human Capital Development PT Excelcomindo Pratama dalam laman portalhr.com, dituliskan bahwa, biasanya, pihak head hunter Indonesia memungut biaya dari total gaji kotor kandidatnya selama setahun, yang besarnya adalah sekitar 15 hingga 20 persen. Bahkan head hunter asing memungut pendapatan sebesar 30 persen.

Jika dilihat secara seksama dari aspek pendapatan per bulan, gaji minimum seorang Senior Associate di bidang perbankan menjangkau 20 juta per bulan seperti yang pernah dijelaskan oleh Kelly Services dalam laporan Indonesia Employment Outlook and Salary Guide 2016. Maka ini bisa dikalkulasikan bahwa perusahaan head hunter bakal mendapatkan keuntungan atau upah hingga 25 juta per tahun untuk satu posisi kandidat yang sukses bergabung di PPK.

Jumlah upah yang diperoleh tersebut, jauh lebih besar saat PPK memilih untuk merekrut pegawai secara internal. Jika posisi recruiter memiliki gaji paling tidak sekitar 8 juta rupiah per bulan (dirujuk dari data yang sama) maka perusahaan bisa menghemat hingga 60 persen dari total pengeluaran dalam kegiatan rekrutmen.

Namun metode itu tidak serta merta dapat diserupakan begitu saja. Sebab setiap teknik mempunya deviden dan kerugian masing-masing, terlebih perusahaan head hunter adalah perusahaan yang tujuan utamanya mencari deviden dari keperluan PPK dalam mencari tenaga kerja professional.

Bagi Pekerja

Pekerja paling diuntung dalam kehadiran head hunter Indonesia karena berkesempatan mendapatkan peluang di perusahaan yang lebih menjanjikan. Tetapi di beda sisi kedudukan dan masa kerja kandidat menjadi taruhan besar.

Sebelum pegawai bergabung di PPK, sejumlah perusahaan head hunter bakal mengikat calon pekerja memakai PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) sekitar 1 tahun. Hal ini disebabkan perusahaan head hunter dan PPK pun mempunyai kontrak bisnis yang mengatur soal hal dan kewajiban masing-masing pihak selama kurun waktu 1 tahun, sebagaimana kesepakatan mengenai metode pembayaran yang disebutkan oleh Joris de Fretes.

Setelah PWKT antara head hunter dan pekerja berakhir, maka pekerja bakal ditawarkan PKWTT (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu). PKWTT itu akan diserahkan pada pekerja dengan masa 3 bulan ekspreimen sebelum benar-benar bergabung dengan PPK.

Degan skema itu, maka seorang pekerja yang hendak bergabung dengan PPK melewati jasa head hunter, mesti menantikan waktu selama 1 tahun dan 3 bulan guna mendapat kejelasan kedudukan sebagai pegawai. Belum lagi dalam masa-masa tunggu yang cukup panjang itu resiko pekerja untuk ditikung pegawai lain tetap masih ada.

baca juga : Perbedaan Outsourcing dan headhunter